Selasa, 22 Februari 2011

KEMALASAN YANG MENGHANCURKAN

Tertegun oleh KEMALASAN

Ya hari ini saya begitu malas untuk berangkat kerja, tak tau kenapa sebabnya yang jelas hari ini aku tak masuk kerja.

Menilik hari-hariku kemaren mungkin rasa malasku ini karna kesalahanku sendiri dalam memanjaemen waktuku sehingga diriku merasa capek kehabisan tenaga, tidak kreatif, tidak produktif.

Tak tau mengapa, yang jelas bukyinya aku tak berangkat kerja, aku sekedar bermain bersama anakku yang baru berusia 3 tahunan, ya bermain mungkin bisa sedikit mengobati sakit pada jiwa ku ini, yang jelas bukan sakit jiwa looo.

Aku sempat tertegun dengan sedikit kenakaannnya dan juga manja dia, woow anakku manja sekali ketika ayahnya dirumah..baru tau aku…

Salam Optimis dunia Akherat

Pringsewu, 18/6/10

KEUNGGULAN ITU BISA KITA RAIH

KEUNGGULAN ITU MILIK KITA

Jika kita mau berusaha maka kita akan unggul, jika kita bersungguh-sungguh maka kita akan mendapatkan apa yang ingin kita capai. Dari persiapan/niat, bergerak dan bergerak mencapainya maka kemungkinan besar cita-ciat akan tercapai.

Dari pengalamn saya ketika menempuh perguruan tinggi ternama diindonesia, saya hanya bertekad untuk melanjurkan kuliah kesana dan akhirnya tercapai, Alhamdulillah.

Kemudian setelah lulus saya berkeinginan segera menikah, maka Alloh SWT segera menjawab doa saya, saya segera menikah walaupun belum bekerja, soal pekerjaan saya sangat percaya kepada Alloh dan Terinspirasi setelah membaca buku “Menikahlah maka kamu akan kaya”,

Ya Kekayaan bukannya hanya harta, tapi teman, keluarga, masyarkat, pengetahuan, terpenuhinya separuh iman.

Hari inipun Saya berniat untuk kembali me release cita saya untuk masuk S2, Soal diterima atau tidak, Ya saya Ikhlas kan saja, Biarkan Alloh SWT Yang akan bertindak.

Soal Kebetulan,rasanya tidak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini, contohnya ketika saya hendak berangkat pelatihan kekota gombong, saya berdoa semoga dalam perjalanan mendapatkan tewman yang bisa jadi Guru Kehidupan, alhamdulilah cita terkabul.

Menilik kembali soal keunggulan, diakui memang bukan bagian dari sikap bangsa Indonesia termasuk saya sendiri, tapi bukan mustahil hal itu akan diraih jika kita bersungguh-sungguih.

Wuiih yang benar aja, apakah bangsa Indonesia buisa seperti jepang….

Saya optimis bisa seperti jepang bahkan melampoi mereka, jika kita sungguh-sungguh mengelolanya….

Wsalm.Salam Optimis Dunia Akherat.

Kamis, 22 April 2010

Melatih Sikap Dinamis dalam Hidup

Sikap Dimanis dalam hidup akan sangat menguntungkan diri kita, sikap dinamis tidak jauh dari kehidupan kita. Sebagai seorang muslim kita dianjurkan mengikuti Suri Tauladan kita yakni Rosululloh baik dari sikap, perilaku dan tindakanya sehari-hari. Akhlak beliau mencerminkan penghayatan terhadap Isi Al-Quran. Dimulai dari Aktifitas Beliau diDini hari dengan bersyukur kepada sang Pencipta dengan Salat lail, yang jangan ditanyakan bagaiamana panjang rakaat dan bacaanya, kemudian dilanjutkan dengan shalat subuh dan baca Al-Quran sampai matahari terlihat muncul diufuk timur. kemudian dilanjutkan aktifitas beliau dalam memenuhi kebutuhan keluarganya dengan berdagang dengan amanah dan memimpin masyarakat baik dalam ketatanegaraan dan keagamaan, jangan ditanya betapa berkualitasnnya aktifitas beliau. aktifitas beliau sangat kaafah/menyeluruh yaitu dengan tidak mengindahkan aturan ilahi dalam setiap aktifitasnya.bisakah kita meneladaninya.

Senin, 19 Oktober 2009

Angin Sepoi

MUSLIMAH DAN KEWAJIBAN MEMBELADIRI

Muthia Esfandari

(Praktisi Beladiri Khusus wanita)

Apa yang terlintas pertama kali di benak Anda ketika tiba-tiba saja seseorang dengan maksud jahat menyergap Anda di tengah jalan? Lari, memberikan perlawanan, atau pasrah saja? Semakin meningkatnya angka kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, barangkali bisa menjadi salah satu jawaban bahwa sebagian besar perempuan yang menjadi korban ternyata memilih untuk pasrah dan bungkam.

Menurut data yang dilansir oleh LBH APIK, pada tahun 2006, DKI Jakarta menempati urutan pertama jumlah kasus kekerasan pada perempuan, yaitu sebanyak 7.020 kasus. Angka kekerasan terhadap perempuan di Jakarta itu meliputi kekerasan dalam rumah tangga sebanyak 3.682 kasus, dan kekerasan dalam komunitas sebanyak 1.787 kasus dalam bentuk pencabulan sebanyak 12 kasus, pemerkosaan (343 kasus), pelecehan seksual (7 kasus), kekerasan seksual (548 kasus), perdagangan perempuan (15 kasus), buruh migran (712 kasus), penganiayaan (74 kasus), dan lain-lain (76 kasus). Sedangkan secara nasional, (menurut data Komnas Perempuan) ada peningkatan jumlah kasus yang signifikan dalam kurun waktu tahun 2003-Maret 2007. Tahun 2003 total kasus yang terjadi adalah 7.787, tahun 2004 sebanyak 14.020 kasus (naik 80 %), tahun 2005 sebanyak 20.391 kasus (naik 69 %), dan tahun 2006-Maret 2007 sebanyak 22.512 kasus. Data tersebut adalah data jumlah kasus yang ditangani oleh 257 lembaga di 32 propinsi di Indonesia.

Seseorang sahabat pernah datang kepada Nabi saw, kemudian bertanya, Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika ada orang hendak merampas hartaku? Beliau bersabda, Jangan berikan hartamu. Dia bertanya lagi, Bagaimana jika dia hendak membunuhku? Beliau menjawab, Bunuh dia. Dia bertanya lagi, Bagaimana bila ia berhasil membunuhku? Beliau menjawab, Maka, kamu syahid.Dia bertanya lagi, Bagaimana bila aku berhasil membunuhnya? Jawab Beliau, Dia masuk neraka (HR Muslim). Hadits tersebut mengajarkan kita untuk tidak pernah berdiam diri saat seseorang bermaksud mendzalimi harta bahkan jiwa kita. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslimah untuk tidak berjuang mempertahankan harta, agama, dan kehormatannya. Permasalahan yang sering terjadi, muslimah tersebut tidak mempunyai cukup keberanian dan pengetahuan sebagai persiapan untuk menghadapi situasi yang tidak diinginkan itu. Padahal, hanya dua hal itu saja yang dibutuhkan.

Keberanian dinisbahkan pada sikap mental yang kuat. Sikap mental apa yang secara mendasar harus dimiliki oleh seorang muslim? Tentunya keimanan. Iman yang kuat akan melahirkan kepercayaan dan keyakinan yang mendalam pada Allah beserta seluruh kuasa-Nya. Keyakinan bahwa Allah akan senantiasa melindungi hambanya. Keyakinan bahwa Allah akan menolong hambanya yang mau berjuang keras mempertahankan segala hal yang diberikan dan dititipkan pada hamba-Nya itu. Percaya atau tidak, keyakinan inilah yang biasanya menguap pertama kali saat kejahatan tiba-tiba muncul di hadapan para korban kriminalitas dan tindak kekerasan tersebut. Padahal, justru keyakinan inilah modal dasar yang dibutuhkan untuk lepas dari situasi kritis itu.

Ketika korban tersebut mampu menghimpun segenap keyakinan dan keimanan yang ada dalam dirinya, ia akan bisa berpikir lebih jernih untuk segera membuat keputusan hal apakah yang harus ia lakukan agar bisa lepas dari situasi itu. Konsep ini disebut dengan konsep sikap mental.

Pengetahuan adalah ilmu dan referensi yang dibutuhkan sebagai kuncian kedua. Pengetahuan yang dibutuhkan antara lain jurus beladiri praktis, pengetahuan tentang titik-titik lemah dalam tubuh manusia, alat-alat yang bisa digunakan sebagai senjata melawan tindak kejahatan, dan tempat yang harus dituju ketika bermaksud melarikan diri. Terlihat sederhana memang, namun akan bernilai lebih jika semua pengetahuan itu mulai kita cari saat ini juga. Bukankah Islam mengajarkan kita untuk senantiasa bersiap-siaga dan bersiap diri?

Dewasa ini, di Amerika mulai menjamur kelompok-kelompok Women Self Defense (WSD) sebagai sarana mendapatkan bekal beladiri praktis yang efektif digunakan saat kejahatan menimpa kita. Hal itu barangkali dilatarbelakangi oleh semakin tingginya tingkat kekerasan dan kriminalitas terhadap para perempuan di Negara itu. Pelatihan yang mereka dapatkan di WSD bukanlah ilmu atau jurus beladiri murni semisal karate, takwondo, atau ju jit su. Melainkan tips dan jurus beladiri praktis yang dirancang khusus untuk menghadapi model kejahatan yang biasa dialami oleh para perempuan, seperti perkosaan; pelecehan seksual; penodongan; perampokan; dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok WSD dirasa cukup bisa memberikan wawasan dan tips praktis yang kontekstual bagi para perempuan Amerika yang notabene sibuk dan terbatas waktu luang.

Bagaimana di Indonesia? Kelompok semacam WSD itu amat jarang kita temukan. Jikalau ada, hanya terbatas di beberapa kota besar saja. Antusiasme dan kepedulian untuk menuntut ilmu pertahanan dan pembelaan diri ini terasa sangat rendah di kalangan perempuan Indonesia. Bagaimana dengan para muslimahnya? Sepertinya tidak jauh beda.

Jika kita sejenak kembali ke zaman Rasulullah saw, akan kita dapati bahwa para muslimah ketika itu juga sering mengalami tindak kriminalitas. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Wail al-Kindi mengatakan,

Seorang muslimah telah diperkosa oleh seorang laki-laki pada kegelapan subuh ketika ia hendak ke mesjid. Muslimah itu meminta tolong kepada seorang laki-laki yang kebetulan lewat. Karena takut ketahuan, lelaki pemerkosa itu kabur melarikan diri. Sesaat kemudian, lewat pula sekelompok orang, Muslimah itu pun meminta tolong kepada mereka. Orang-orang itu memergoki laki-laki penolong di tempat kejadian, sementara pelaku yang sebenarnya telah melarikan diri. Mereka menghadapkan lelaki penolong itu kepada Muslimah yang diperkosa. Penolong itu berkata, Aku hanya menolongmu, pelaku yang sebenarnya sudah melarikan diri.™ Lalu mereka menghadapkan pelaku sebenarnya (setelah dilakukan pengejaran) kepada Rasulllah. (HR Ahmad)

Dalam riwayat yang lain juga dikisahkan tentang hal penganiayaan dan pelecehan yang pernah dialami oleh muslimah pada zaman Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Sesungguhnya ada dua orang muslimah dari Bani Huzail. Salah satu dari mereka memukul yang lain sehingga menyebabkan janinnya keguguran. Maka, Nabi saw memutuskan kepada muslimah yang memukul itu untuk membayar diyat berupa seorang hamba sahaya lelaki atau perempuan. (HR Bukhari)

Ibnu Masud berkata, Seorang laki-laki telah mencium seorang muslimah. Lalu ia datang kepada Rasulullah memberitahukan kejadiannya.

(HR Bukhari dan Muslim)

Kisah-kisah pada zaman Rasulullah saw tersebut harusnya menjadi stimulan dan motivator bagi setiap muslimah agar mau mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum kejahatan itu benar-benar terjadi. Bukankah mempersiapkan diri sejak dini itu bagian dari keseriusan ikhtiar?

Jika kita mempunyai waktu luang, bergabunglah dengan kelompok beladiri praktis khusus perempuan yang mungkin ada di kota tempat kita tinggal. Atau, minimal berolahragalah secara rutin untuk agar fisik kita selalu bugar dan terjaga. Kita juga bisa menambah pengetahuan dan referensi dengan membaca buku-buku bertema practical self defense yang banyak terdapat di toko-toko buku (meski sebagian besar buku bertema ini adalah buku terejmahan dari bahasa asing). Satu hal yang tak kalah penting untuk kita jaga adalah keyakinan dan keimanan kita kepada Allah SWT, agar semakin merasuk dalam hati kita, sehingga dalam situasi apa pun kita akan selalu yakin dan beriman.


Dapatkan info tentang selebritis - Yahoo! Indonesia

Kita Pun Bisa

DISIPLIN ALA KARATEKA

Tameshiwari atau teknik mematahkan, menghancurkan atau memecahkan benda keras, menjadi sebuah tontonan menarik yang kerap ditampilkan pada even seni beladiri.

Kemampuan fisik mematahkan potongan kayu, stik base ball, batang besi, kikir, menghancurkan tumpukan bata, genteng, balok es dan sebagainya ini dipelajari di sejumlah perguruan seni beladiri, salah satunya Karate dan memang istilah Tameshiwari sendiri berasal dari seni beladiri negeri matahari terbit tersebut.

Masing-masing perguruan memiliki metode latihan tameshiwari . Ada yang menerapkan latihan pernapasan yang berkorelasi dengan penghimpunan tenaga dalam, adapula hanya mengandalkan latihan fisik semata.

Terlepas dari bagaimana melatih tameshiwari, jika dikaji lebih jauh ilmu ini memberikan banyak pelajaran bagi praktisi beladiri.

Agar tangan, kaki, kepala dan berbagai anggota tubuh lainnya mampu 'mengalahkan' benda keras, diperlukan latihan rutin yang memakan waktu panjang. Di sinilah dituntut ketekunan, kerja keras, kesabaran dan kehati-hatian dalam mencapai satu tujuan.

Sebelum mempraktikkan tameshiwari, terlebih dahulu melakukan persiapan diri. Di sini diperlukan konsentrasi, pengendalian diri, peningkatan keyakinan dengan berdoa dan sugesti yang kuat sehingga timbul kepercayaan diri .

Nah, dengan berlatih tameshiwari, tidak semata peningkatan kemampuan fisik yang kita dapat, tapi juga peningkatan mental dan spiritual.
Harry

Belajar Santai

PROFESIONALISME


Dunia menuntut profesionalisme
Nilai yang kita perlu tingkatkan adalah profesionalisme dalam bermasyarakat, berorganisasi.
Tahukah bahwa dunia mencari orang-orang yang profesional bahkan mereka berani bayar mahal untuk itu. Kalau dari sekarang kita mulai mengembangkan profesionalisme maka beberapa waktu dari saat ini kita akan memiliki kehidupan yang berkualitas tinggi.

Pemahaman
Profesional:
Seseorang yang melakukan suatu (kegiatan, aktivitas, usaha, pekerjaan) yang dilakukan untuk mendapatkan (nafkah, kesenangan) atau memberi (konstribusi) dengan mengandalkan (keahlian, keterampilan, kemahiran) yang tinggi dengan melibatkan komitmen pribadi (moral) yang mendalam.

Profesionalisme:
Lebih mengarah pada (spirit, jiwa, sikap, karakter, semangat, nilai) yang dimiliki dari seorang yang profesional.

Tanpa profesionalisme sebuah institusi, sebuah organisasi, sebuah perusahaan tidak akan bertahan lama dan langgeng, karena jiwa profesionalisme inilah yang menghidupkan setiap aktivitas-aktivitas yang ada didalamnya.
Julukan profesional sebenarnya bukan label yang kita berikan untuk diri sendiri melainkan penilaian orang lain atas kinerja dan peforma yang kita tampilkan.

7 Strategi menjadi seorang yang profesional:
1. Kembangkan keahlian (Expert)
Untuk menjadi seorang yang profesional tidak cukup hanya lewat pendidikan formal, diperlukan lebih dari sekedar gelar akademis. Kita perlu melalui proses pembelajaran dan pengembangan diri yang terus menerus. Kita harus menggali potensi dan kemampuan kita dan terus dikembangkan sampai kita menjadi ahli. Fokus pada kekuatan kita dan bukan pada kelemahan kita, lakukan eksplorasi (organisasi sebagai sarana), sadari setiap kita punya keunikan dan kekhususan jadi kita perlu inves waktu untuk mengembangkannya. Hal ini butuh ketekunan, usaha, kerja keras, kemauan yang kuat dan inisiatif. Terus tingkatkan pemahaman kita lewat seminar, buku, audio, latihan.

2. Mahir membangun hubungan (Relationship)
Kemampuan kita membangun hubungan (bersosialisasi) dengan orang lain sangat menentukan keberhasilan kita dalam kehidupan. Ini berlaku dalam setiap aspek kehidupan seperti: pergaulan, organisasi, dunia usaha, pekerjaan, keluarga.
Makanya tidak heran sejumlah studi ilmiah menyimpulkan 85% kunci sukses ditentukan bukan dari keahlian/keterampilan teknis melainkan kemahiran dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Bila anda ingin menjadi seorang yang profesional dalam hidup ini, apapun tujuan dan bidang yang anda pilih, anda harus belajar membina hubungan yang baik dengan orang banyak dari berbagai kalangan.
Karena masyarakat mungkin masih bisa menerima orang yang tidak punya keahlian khusus tapi mereka sulit menerima orang yang tidak bisa berhubungan baik dengan orang lain.

3. Tingkatkan kemampuan berkomunikasi (Communicator)
Seberapa jauh dan dalamnya suatu hubungan dapat terjalin ditentukan oleh komunikasi. 90% penyebab hancurnya suatu hubungan pernikahan, pertemanan, organisasi, bisnis, diakibatkan komunikasi yang salah. Komunikasi yang baik harus bersifat dua arah. Seorang komunikator yang handal adalah seorang pendengar yang baik. Seorang yang profesional harus mampu mengkomunikasikan suatu hal dengan jelas dan tepat pada sasaran.

4. Hasilkan yang terbaik (Excellent)
Seorang profesional sejati akan selalu berusaha menghasilkan karya yang berkualitas tinggi dan kinerja yang maksimal. "Profesional don't do different thing, they do thing differently".
Untuk menjadi profesional kita harus terus mencoba memberikan dan mengerjakan lebih dari apa yang diharapkan. Waktu kita lakukan suatu kegiatan, project, kerjaan, tugas hasilkan yang terbaik. Jangan puas dengan rata-rata kejar hasil yang excellent. Lakukan yang terbaik hari ini untuk bayaran hari esok. Pikirkan selalu apa yang dapat saya lakukan untuk add value bukan apa yang saya bisa peroleh.

5. Berpenampilan menarik (Good Looking)
First impression is very important! Karena orang akan menilai kita 10 detik pertama apakah mereka bisa menerima kita atau tidak. Sama halnya kalau kita mau beli barang lihat packaging dulu, mau nonton film lihat preview dulu, mau masuk toko lihat dekor yang paling menarik.

6. Kehidupan yang seimbang (Balance of life)
Seorang profesional harus mampu atur prioritas dan menjalankan berbagai peran. Setiap kita mungkin memiliki banyak peran dalam hidup ini seperti: sebagai anak, ayah, anggota organisasi, ketua, sales, karyawan. Kita harus dapat berfungsi dengan benar sesuai dengan peran yang kita jalankan jangan sampai tercampur aduk. Hidup ini harus dijaga agar seimbang dalam berbagai aspek.

7. Memiliki nilai moral yang tinggi (Strong Value)
Untuk menjadi seorang yang profesional sejati kita harus memiliki nilai moral yang tinggi. Hal ini yang akan membedakan setiap kinerja, usaha, karya dan kegiatan yang kita lakukan dengan orang lain. Sementara orang lain kompromi, menggunakan cara-cara yang tidak etis untuk mencapai tujuannya kita tetap berpegang pada prinsip yang benar.
Diluar sana ada begitu banyak cara-cara pintas dan penyimpangan yang terjadi, oleh karena itu kita harus mampu mempertahankan sikap profesionalism(dari google)

Jumat, 16 Oktober 2009